
Tak ada kepastian harga tokek. Yang ada adalah sesuai selera. Betapa tidak, meski ditawarkan murah, tapi jika tidak suka, pasti tidak dibeli. Atau sebaliknya, meski mahal, jika suka, ya tetep dibeli. Pendek kata, harga tokek lebih menyerupai harga barang antik. Harga tokek bisa dikatakan sebagai harga kesenangan.
Ya, harga tokek memang tak pernah ada kejelasan di pasaran. Hampir semua harga penawaran tokek di internet tak sepenuhnya benar. Meski ada beberapa yang benar, tapi lebih banyak yang nggak bener. Iklan internet, terkadang tokek dihargai sangat mahal, tapi terkadang dihargai sangat murah. Itu, tergantung siapa yang membuka penawaran harga.
Tapi, kebanyakan pengiklan di internet berasal dari kalangan mediator. Sangat jarang seorang buyer membuka penawaran harga di internet. Biasanya, seorang buyer hanya memantau orang-orang yang menawarkan tokek. Jika dia tertarik dengan tokek yang ditawarkan, biasanya dia langsung menghubungi alamat pemasang iklan, bisa via situs, email, telepon atau bahkan datang langsung.
Tapi, itu semua sah-sah saja. Seorang mediator tak bisa disalahkan sepenuhnya. Biar bagaimanapun, keberadaannya sangat diperlukan oleh pemilik maupun pembeli tokek. Terutama yang kesulitan dalam hal pemasaran. Tapi, sangat disayangkan jika ada mediator yang bekerja tanpa etika. Ingin dapat keuntungan besar, dia rela bermain petak umpet. Ujung-ujungnya, pemilik tokek hanya kebagian kue keuntungan yang sangat kecil. Sementara mediator, hanya bermodal HP, email dan foto tokek, bisa untung berkali-kali lipat dari pemilik tokek.
Nah, dari sini, sebaiknya para mediator mulai mengubah diri. Berbisnis dengan etika. Kejujuran dan keterbukaan dengan pemilik maupun buyer tokek sangat diperlukan. Dengan keterbukaan, semua sama-sama untung, sama-sama senang. Tak ada yang dirugikan. Tidak menimbulkan rasa dendam atau benci di kemudian hari.
Sejak situs ini saya lempar ke publik bulan lalu, beragam pertanyaan muncul, baik yang menulis via komentar, email, maupun telepon langsung. Kebanyakan dari mereka menanyakan harga tokek. Beberapa kalangan berasal dari pemilik tokek, mediator, atau dari buyer langsung.
Tapi, saya selalu jawab “saya tidak bisa memastikan.” Sebab, ada kalanya yang mencari atau menawarkan tokek dengan harga yang sangat tinggi, tapi terkadang ada yang menawarkan dengan harga murah. Jadi, soal harga tetap tak bisa dipastikan.
Selama beberapa waktu berkomunikasi dengan beberapa pemilik, mediator dan buyer, saya bisa menyimpulkan (kalau boleh), bahwa harga tokek itu berbeda di tiap daerah. Misalnya, harga tokek di Surabaya, Jakarta, Yogyakarta atau Banjarmasin jelas berbeda. Biasanya, harga itu tergantung dari kemampuan buyer setempat dalam membayar tokek.
Di Banjarmasin, Kalsel misalnya. Harga tokek sangat bervariasi. Tokek dahan/rumah/pohon/hutan, ukuran 1 ons dihargai Rp 100 ribuan, ukuran 1,5 ons dihargai Rp 250 ribuan, ukuran 2 ons dihargai Rp 1-5 juta, ukuran 2,5 ons up dihargai di atas Rp 10 juta. dst.. Sementara untuk pasaran tokek batu, ukuran 2 kilogram up, dijual pada kisaran Rp 25 juta hingga Rp 50 juta per ons.
Untuk tokek dahan atau rumah yang laku dijual, syaratnya relatif sama: sehat, totol merah/hitam/putih, dll. Sedangkan tokek batu, biasanya yang dicari ukuran 2 kilogram up, sehat, lidah tidak bercabang. Nah, demikian informasi yang saya tahu. Mungkin Anda jauh lebih tahu informasi soal harga tokek ini. Jika memungkinkan, silakan share harga tokek di sini. Terima kasih…
Banjarmasin, 16 Desember 2009 Read More......